Stunting: Isu Kesehatan yang Melejit dalam PILPRES 2024
Ulasan Dialog Kebangsaan Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI) 7 Februari 2024
oleh : Bin Sanusi
| Pada debat terakhir calon presiden Pemilu 2024, yang berlangsung pada Minggu lalu, isu stunting atau tengkes menjadi sorotan. Meskipun masih ada kebingungan di sekitar konsep ini, kehadiran stunting dalam forum politik menandai pergeseran penting dalam upaya mengatasi masalah gizi kronis ini.
"Stunting" atau tengkes adalah suatu gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kurangnya gizi kronis, serangan infeksi berulang, dan kurangnya stimulasi psikososial yang memadai. Dampaknya tak hanya dirasakan saat ini, tapi juga membawa implikasi jauh ke masa depan. mereka menghadapi kesulitan belajar di sekolah, mendapatkan penghasilan yang lebih rendah saat dewasa, dan menghadapi hambatan untuk berpartisipasi dalam komunitas mereka. isu kualitas sumber daya manusia ini akan sangan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Secara global, 149,2 juta anak di bawah usia 5 tahun menderita stunting pada tahun 2020.*
Meskipun sudah ada upaya penanganan stunting selama beberapa tahun terakhir, namun dalam debat terakhir ini, masih banyak kebingungan mengenai kondisi tersebut seperti metode penanganannya apakah diberikan makan, dicegah, diobati, dsb. Meskipun begitu, ahli kesehatan menyambut baik meningkatnya kesadaran politisi terhadap isu stunting.
Pendapat Ahli
Menurut Abdul Razak Thaha, seorang Guru Besar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta, meskipun pemahaman tentang stunting masih belum maksimal, kesediaan politisi untuk memahami masalah ini adalah langkah signifikan. Ini menandakan pergeseran paradigma dalam penanganan masalah kesehatan dari pendekatan kuratif ke promotif dan preventif.
Stunting bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan juga terkait erat dengan aspek sosial dan ekonomi. Pencegahan harus dimulai sejak dini, terutama selama masa kehamilan dan 1.000 hari pertama kehidupan anak. Investasi dalam akses air bersih, sanitasi, pendidikan kesehatan, dan pemberdayaan perempuan menjadi kunci dalam menangani stunting.
Pada kesempatan yang sama, Dr. Isti Ansharina Kathin, seorang spesialis anak, juga memberikan pandangannya tentang isu stunting. Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI), Dr. Isti memberikan wawasan yang berharga mengenai nuansa stunting dan membantah beberapa kesalahpahaman umum.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan, Indonesia mencatat prevalensi stunting sebesar 21% pada tahun 2022. Dr. Isti menjelaskan bahwa tidak semua anak dengan postur tubuh pendek menderita stunting. Menggunakan contoh kasus dari aktor terkenal Ucok Baba, dia menekankan pentingnya mengevaluasi setiap kasus secara komprehensif. Faktor-faktor seperti pengukuran tubuh yang tidak proporsional dan kelainan tulang dapat menyebabkan postur tubuh pendek tanpa harus mengindikasikan stunting.
Selain itu, Dr. Isti juga menyoroti penyebab umum stunting di Indonesia, terutama berkaitan dengan defisiensi gizi di kalangan masyarakat yang kurang mampu ekonominya. Asupan nutrisi yang buruk, ditambah dengan faktor-faktor seperti thalassemia dan infeksi kronis akibat sanitasi yang tidak memadai, turut berperan dalam meningkatnya prevalensi stunting di negara ini.
Pendekatan yang komprehensif terhadap stunting, sebagaimana disampaikan oleh Dr. Isti, melibatkan tidak hanya aspek kesehatan, tetapi juga faktor-faktor sosial dan ekonomi. Melalui kesadaran akan kompleksitas masalah ini dan implementasi intervensi yang tepat, diharapkan dapat tercapai pengurangan yang signifikan dalam prevalensi stunting di Indonesia.
Dengan demikian, paparan dari Dr. Isti Ansharina Kathin memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang isu stunting dan pentingnya penanganan yang holistik terhadap masalah ini.
Nutrisi dalam Ketahanan Bangsa
Kesadaran politisi terhadap stunting sebagai isu politik menandai langkah positif dalam penanganan masalah gizi kronis ini. Upaya preventif dan promotif yang melibatkan berbagai sektor diharapkan dapat memberikan dampak yang signifikan dalam mengatasi stunting di Indonesia.
Sekali lagi ditegaskan dalam dialog kebangsaan ini bahwa penanganan stunting terbaik adalah pada fase pra-stunting yaitu pencegahan. Salah satu narasumber juga sempat mengutip quote Hillary Clinton yang berbunyi “ I often tell people as I travel around the world, If you want to know how stable a country is, don't count the number of advanced weapons, count the number of malnourished children! “. Hal ini semakin membuat kita bertanya, “Seberapa besarkah pengaruh hegemoni alutsista terhadap stabilitas suatu negara bila manusia negara tersebut masih tumbuh dalam belenggu stunting?”.
Hal ini menunjukkan bahwa penanganan stunting bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan semata, tetapi juga membutuhkan komitmen dan kerjasama lintas sektor suatu negara dalam memastikan kesejahteraan generasi dan ketahanan bangsa di masa mendatang.
Dengan adanya perhatian politik yang semakin menguat terhadap stunting, diharapkan akan terjadi percepatan dalam penanganan masalah ini, serta terbukanya ruang untuk kolaborasi lintas sektor demi masa depan dan ketahanan bangsa.
Akhirnya kita berkesimpulan bahwa “Stunting can not be cured, but can be prevented”. Semoga ulasan ini dapat menjadi bekal dalam partisipasi pesta demokrasi.






Comments
Post a Comment